Beberapa hari yang lalu, gue nonton acara cerita pagi di transtv, jarang banget gue nonton acara ini, tapi kebetulan sambil siap-siap mau berangkat, sekilas nonton...
anyway, acara itu menceritakan beberapa kisah perselingkuhan yang berakhir sangat buruk. Yang satu pelaku selingkuh akhirnya dibakar sama istrinya, yang satu lagi pasangan selingkuh istrinya lehernya di-cutter sama sang suami. sebenernya banyak banget cerita-cerita perselingkuhan yang jalannya dan endingnya buruk. Oiya, kasusnya mayang sari juga gitu ya, anak-anaknya BT ngamuk. Seorang teman yang sangat cerdas dan gue cukup kagum dengan kreativitasnya, mukanya mungkin hilang karena selingkuh....
Jumat, 25 Januari 2008
Senin, 17 Desember 2007
Kamis, 13 Desember 2007
What happen to the love after marriage...?
Sebagian besar bilang cinta akan hilang setelah beberapa lama bersama-sama. Getar cinta, binar-binar dan sinaran cinta di mata kekasih bisa menghilang. Sebagian lagi mungkin akan bilang cinta bertransformasi menjadi hanya rasa sayang, seperti sayang untuk teman, seperti sayang untuk kakak atau adik, tetapi rasa deg-degan ketika bertemu kekasih, canggung ketika bersama, dan malu-malu ketika bersamanya akan lenyap perlahan-lahan seiring dengan berjalannya waktu. Sebagian lagi malah bilang cinta sudah menguap sama sekali.
Rutinitas kemudian menjadi sesuatu yang sangat membosankan, menjadi momok, menjadi sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, sehingga bisa dijadikan alasan oleh seseoran untuk mencari ”hiburan” dari tempat (baca=orang) lain.
Kemudian apalagi yang tersisa dan yang membuat seseorang tetap bertahan di dalam lingkaran perkawinan. Menurut saya RASIONALITAS. Ketika rasional seseorang mendominasi, hal-hal buruk seperti perselingkuhan tidak akan terjadi.
Sayangnya, tampaknya rasional ini lebih banyak dipunyai perempuan. (Salah kalau dibilang perempuan lebih punya emosi daripada rasio, sedangkan laki-laki sebaliknya). Perempuan ketika akan selingkuh dari suaminya pasti banyak pertimbangannya, nanti anaknya beginilah, nanti teman-teman bilang begitulah, keluarga begini, suami begitulah, dan lain-lain. Tetapi laki-laki sepertinya tidak seperti itu. Ini bisa dilihat bahwa laki-lakilah yang lebih banyak selingkuh dibanding perempuan.
Kemudian yang menjadi korban dari kebodohan itu adalah perempuan yang kemudian berimbas pada anak dari hasil cinta mereka (dahulu...). Perempuan akan mulai berpikir, apa yang salah dengan dirinya, apa yang kurang dari dia, apa dia kurang cantik, apa dia kurang kurus, apa dia kurang muda, apa dia kurang melayani, apa dia membosankan.
Kemudian sang anak akan merasa tertipu, hatinya hancur, apalagi kalau anak perempuan (anak perempuan biasanya mengidolakan ayahnya dan ingin kalau punya suami seperti ayahnya...). kemudian kalau laki-laki tidak bisa melepaskan diri dari jerat perselingkuhan, dan malah menjatuhkan talak pada istrinya, keluarga akan hancur-lebur. Harga diri peerempuan terkoyak koyak, banyak yang kemudian menjadi depresi dan tidak percaya diri.
Anak-anak bertanya-tanya, kenapa ayahnya meninggalkannya, apa ayah tidak mencintainya, apa karena dia nakal, apa karena dia tidak mau makan, apa karena dia kurang pintar di sekolah, apa karena dia tidak cantik, kenapa ayah meninggalkan ibu, kenapa ayah tidak mencintai ibu. Lantas, di kemudian hari ketika si-anak sudahh dewasa, dia akan berpikir sejuta kali untuk menikah. Apakah laki-laki yang dicintainya benar-benar mencintainya, apakah laki-laki yang dicintainya bisa terus mencintainya, apakah laki-laki itu tidak akan mengecewakannya, bisakah laki-laki itu menjaga hatinya, menjaga cintanya, menjaga nafsunya. Kemudian ketika menikahpun si-anak tidak akan terlepas dari traumanya dahulu, dan masih membawa-bawa trauma itu ke dalam kehidupan tumah tangganya. Dia bisa menjadi sangat protektif (baca=mengekang) terhadap suaminya, lantas menularkan rasa tidak percaya diri pada anaknya
Rutinitas kemudian menjadi sesuatu yang sangat membosankan, menjadi momok, menjadi sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, sehingga bisa dijadikan alasan oleh seseoran untuk mencari ”hiburan” dari tempat (baca=orang) lain.
Kemudian apalagi yang tersisa dan yang membuat seseorang tetap bertahan di dalam lingkaran perkawinan. Menurut saya RASIONALITAS. Ketika rasional seseorang mendominasi, hal-hal buruk seperti perselingkuhan tidak akan terjadi.
Sayangnya, tampaknya rasional ini lebih banyak dipunyai perempuan. (Salah kalau dibilang perempuan lebih punya emosi daripada rasio, sedangkan laki-laki sebaliknya). Perempuan ketika akan selingkuh dari suaminya pasti banyak pertimbangannya, nanti anaknya beginilah, nanti teman-teman bilang begitulah, keluarga begini, suami begitulah, dan lain-lain. Tetapi laki-laki sepertinya tidak seperti itu. Ini bisa dilihat bahwa laki-lakilah yang lebih banyak selingkuh dibanding perempuan.
Kemudian yang menjadi korban dari kebodohan itu adalah perempuan yang kemudian berimbas pada anak dari hasil cinta mereka (dahulu...). Perempuan akan mulai berpikir, apa yang salah dengan dirinya, apa yang kurang dari dia, apa dia kurang cantik, apa dia kurang kurus, apa dia kurang muda, apa dia kurang melayani, apa dia membosankan.
Kemudian sang anak akan merasa tertipu, hatinya hancur, apalagi kalau anak perempuan (anak perempuan biasanya mengidolakan ayahnya dan ingin kalau punya suami seperti ayahnya...). kemudian kalau laki-laki tidak bisa melepaskan diri dari jerat perselingkuhan, dan malah menjatuhkan talak pada istrinya, keluarga akan hancur-lebur. Harga diri peerempuan terkoyak koyak, banyak yang kemudian menjadi depresi dan tidak percaya diri.
Anak-anak bertanya-tanya, kenapa ayahnya meninggalkannya, apa ayah tidak mencintainya, apa karena dia nakal, apa karena dia tidak mau makan, apa karena dia kurang pintar di sekolah, apa karena dia tidak cantik, kenapa ayah meninggalkan ibu, kenapa ayah tidak mencintai ibu. Lantas, di kemudian hari ketika si-anak sudahh dewasa, dia akan berpikir sejuta kali untuk menikah. Apakah laki-laki yang dicintainya benar-benar mencintainya, apakah laki-laki yang dicintainya bisa terus mencintainya, apakah laki-laki itu tidak akan mengecewakannya, bisakah laki-laki itu menjaga hatinya, menjaga cintanya, menjaga nafsunya. Kemudian ketika menikahpun si-anak tidak akan terlepas dari traumanya dahulu, dan masih membawa-bawa trauma itu ke dalam kehidupan tumah tangganya. Dia bisa menjadi sangat protektif (baca=mengekang) terhadap suaminya, lantas menularkan rasa tidak percaya diri pada anaknya
Kamis, 06 Desember 2007
poligami2...aa gym...
Capeeekkk dehhhh...denger aa gym semalem di kick andy....
Susah ya, abis dia nyamain tindakannya berpoligami dengan tindakan seorang ibu yang memvaksinasi anaknya dengan vaksin. SAKIT TAPI BERMANFAAT BESAR, kalo itung-itungan kedokterannya, BENEFIT MELEBIHI RISK....apa iya???????
Aa gym gak semuanya negatif menurut gue, ada bagusnya jadi orang seperti Aa Gym, dia selalu bisa mencari sisi baik dari sesuatu...tapi, gak tau kenapa, mungkin karena perasaan subjektif gue sudah sangat bermain, hikmah2 yang Aa gym tarik dari "episode" hidupnya ini kedengeran "fals" buat gue.
Dan akhirnya lagu "jagalah hati" kedengeran jadi minor-minor dan kelihatan banget penonton acara itu pun gak antusias nyanyiinnya....sama gak antusiasnya gue meresapi kata-kata Aa gym yang kedengerannya terlalu di"bijak-bijakan"....
Sorry...
Susah ya, abis dia nyamain tindakannya berpoligami dengan tindakan seorang ibu yang memvaksinasi anaknya dengan vaksin. SAKIT TAPI BERMANFAAT BESAR, kalo itung-itungan kedokterannya, BENEFIT MELEBIHI RISK....apa iya???????
Aa gym gak semuanya negatif menurut gue, ada bagusnya jadi orang seperti Aa Gym, dia selalu bisa mencari sisi baik dari sesuatu...tapi, gak tau kenapa, mungkin karena perasaan subjektif gue sudah sangat bermain, hikmah2 yang Aa gym tarik dari "episode" hidupnya ini kedengeran "fals" buat gue.
Dan akhirnya lagu "jagalah hati" kedengeran jadi minor-minor dan kelihatan banget penonton acara itu pun gak antusias nyanyiinnya....sama gak antusiasnya gue meresapi kata-kata Aa gym yang kedengerannya terlalu di"bijak-bijakan"....
Sorry...
Minggu, 25 November 2007
poligami1
Perempuan kadang-kadang aneh, kita cenderung menyalahkan kaum kita juga.
Dalam perjalanan menuju lokalisasi tanjung uncang di kota batam, salah seorang kolega dokter bercerita soal koleganya yang baru saja mengantar suaminya untuk kawin lagi. Yang bikin saya kecewa, ibu itu bilang, bahwa koleganya itu salah juga karena terlalu sering meninggalkan suami untuk bekerja dari pagi sampai malam, makanya suaminya jadi mau poligami. Menurut gue ini sama sekali bukan alasan laki-laki boleh poligami.
Dalam perjalanan dari tanjung uncang ke hang nadim, vivi cerita kalo dia seneng banget makan di ”wong solo” soalnya enak katanya. Gue bilang, meskipun gue tergiur dengan iming-iming enaknya ayam bakar wong solo, gue gak akan mau makan di sana.
Gue setuju banget sama kiki, bahwa pelaku poligami atau peselingkuh itu harus dihukum secara sosial. Begitupun wong solo, gue pikir, dengan banyaknya media yang menulis tentang ke-poligamian wong solo, dan berpihak, ini sih sama sekali bukan hukuman sosial. Apalagi rame-rame makan di sana....???
Dalam perjalanan menuju lokalisasi tanjung uncang di kota batam, salah seorang kolega dokter bercerita soal koleganya yang baru saja mengantar suaminya untuk kawin lagi. Yang bikin saya kecewa, ibu itu bilang, bahwa koleganya itu salah juga karena terlalu sering meninggalkan suami untuk bekerja dari pagi sampai malam, makanya suaminya jadi mau poligami. Menurut gue ini sama sekali bukan alasan laki-laki boleh poligami.
Dalam perjalanan dari tanjung uncang ke hang nadim, vivi cerita kalo dia seneng banget makan di ”wong solo” soalnya enak katanya. Gue bilang, meskipun gue tergiur dengan iming-iming enaknya ayam bakar wong solo, gue gak akan mau makan di sana.
Gue setuju banget sama kiki, bahwa pelaku poligami atau peselingkuh itu harus dihukum secara sosial. Begitupun wong solo, gue pikir, dengan banyaknya media yang menulis tentang ke-poligamian wong solo, dan berpihak, ini sih sama sekali bukan hukuman sosial. Apalagi rame-rame makan di sana....???
Jumat, 16 November 2007
Senin, 12 November 2007
Selingkuh1
Mungkin laki-laki menganggap perkawinan adalah hal yang "segalanya tetapi terpisah dari kehidupannya". Laki-laki ketika berselingkuh dan ketahuan akan mengatakan kalau hubungannya dengan perempuan lain itu sebagai "bukan apa-apa" dan akan bilang kalau istri, anak dan keluarganya adalah segalanya buatnya.
Selingkuh sekarang ini adalah fenomena, bukan suatu kejadian. Semakin banyak orang yang beranggapan kalau selingkuh itu "bukan apa-apa". Coba perhatikan sinetron2 sekarang, lagu2 sekarang, berapa banyak yang mengusung tema selingkuh, dan dibenarkan. bahkan ada lagu bodoh yang dibawakan oleh perempuan yang meminta untuk "dijadikan yang kedua".
Gue terus terang khawatir dengan fenomena ini. Gue menganggap lagu itu "inspiring", bisa mendorong orang untuk melakukan sesuatu. Kebayangkan kalo banyaknya lagu yang berpihak pada selingkuh, bahkan menjadikan orang ketiga ini sebagai orang yang teraniaya, bagaimana nasib anak-anak kita.
Gue korban selingkuh juga, baik secara langsung dan gak langsung. Gue cerita yang gak langsung aja ya, misalnya, Akibat poligami, gue jadi gak kenal sama tante-tante dan om gue (saking banyaknya...hehehe). Nyokap gue pun manggil bokapnya "om", dan gue pun jadi gak cukup kenal dengan sosok "om" ini (mungkin dianya juga pusing kali ya kebanyakan cucu...).
Selingkuh sekarang ini adalah fenomena, bukan suatu kejadian. Semakin banyak orang yang beranggapan kalau selingkuh itu "bukan apa-apa". Coba perhatikan sinetron2 sekarang, lagu2 sekarang, berapa banyak yang mengusung tema selingkuh, dan dibenarkan. bahkan ada lagu bodoh yang dibawakan oleh perempuan yang meminta untuk "dijadikan yang kedua".
Gue terus terang khawatir dengan fenomena ini. Gue menganggap lagu itu "inspiring", bisa mendorong orang untuk melakukan sesuatu. Kebayangkan kalo banyaknya lagu yang berpihak pada selingkuh, bahkan menjadikan orang ketiga ini sebagai orang yang teraniaya, bagaimana nasib anak-anak kita.
Gue korban selingkuh juga, baik secara langsung dan gak langsung. Gue cerita yang gak langsung aja ya, misalnya, Akibat poligami, gue jadi gak kenal sama tante-tante dan om gue (saking banyaknya...hehehe). Nyokap gue pun manggil bokapnya "om", dan gue pun jadi gak cukup kenal dengan sosok "om" ini (mungkin dianya juga pusing kali ya kebanyakan cucu...).
Langganan:
Postingan (Atom)




